Sekali lagi, pagi ini diriku terbangun sebagai seekor sapi. Setelah kemarin beraktifitas seharian seperti yang sudah kurencanakan dalam pikiranku, hari ini pun rencananya akan seperti itu lagi. Keluar kandang, makan rerumputan, ke sungai, berteduh sambil memamah rumput lalu kembali ke kandang. Rencana yang sempurna.
Mungkin perulangan aktifitas seperti itu membosankan di mata kebanyakan mahluk lain, terutama bagi manusia. Tapi apa yang bisa kau harapkan dari menjadi seekor sapi yang hidup di sebuah peternakan tak bertuan. Meskipun diriku adalah sapi yang dapat dibilang punya tingkat intelektualitas dan imajinasi sedikit lebih baik dibanding sapi – sapi lain yang seumuran denganku, tidak mungkin bagiku berimajinasi punya aktifitas seperti seekor harimau yang seharian keliling hutan, menerjang apa saja yang bergerak untuk sekedar mengisi lambung. Kesadaranku tidak mengizinkanku berimajinasi seperti itu. Kalau kau tanyakan alasannya, akan kukatakan padamu, harimau itu mahluk menyedihkan, tidak bermaksud menghina spesies lain, karena sapi lain pun yang tidak hidup sepertiku akan dengan senang hati kukatakan hal yang sama seperti kataku pada harimau. Aku bukan rasialis (belum kutemukan istilah yang tepat untuk menyatakan diskriminasi antara spesies, terpaksa kugunakan istilah yang biasa kudengar di TV peternakan. Jangan heran kalau ada TV di peternakan tanpa tuan ini. Nanti kuceritakan asal-usulnya), tapi memang begitulah yang terjadi pada mahluk lain. Harimau meskipun jadi hewan yang paling dikagumi manusia entah karena otot-otot dan corak lorengnya atau mungkin karena keberingasannya memangsa manusia, mau tak mau harus melakukan usaha lebih dalam memperjuangkan hidupnya, buah kekaguman manusia serta keberingasan pribadi yang menyengsarakan. Begitu juga dengan sapi lain di luar diriku tidak jauh beda dengan harimau, meskipun mereka tidak harus berlari dan mengendap sepanjang hari untuk sekedar mendapat nutrisi, nasib mereka rata-rata bertahan sekitar 2 hingga 4 tahun karena sudah tercatat rumah jagal adalah terminal. Mereka tidak bisa memilih tempat dan waktu kematian sendiri.sebenarnya diriku pun tidak bisa memilih tapi setidaknya yang kutahu, ada banyak pilihan tempat kematian bagiku selain rumah jagal dan usiaku, ini yang terpenting, sudah 5 musim kemarau kulewati, yang kutahu, ini melebihi ekspektasi usia sapi normal peternakan. Jadi wajar saja kukatakan pada kalian semua, aku spesial. Mahluk lain punya kehidupan yang menyedihkan. Pernyataan yang arogan, tapi memang begitu adanya.
Iblis terusir dari surga karena kesombongan seperti yang kulakukan saat ini. Tapi diriku belum juga terusir dari peternakan tak bertuan ini sejak kearogananku timbul bersama kematian tuanku. Aku jadi berpikir, tidak semua prinsip umum berlaku secara umum. Malah, kesombongan ini membuatku merasakan nikmatnya kehidupan. Saya tidak menyarankan kalian mencontohku terutama jika kalian yang membaca tulisan ini berasal dari golongan manusia. Tampaknya Tuhan punya hukum yang berbeda untuk hewan.

